Halaman

Rabu, 26 Februari 2014

Bahasa Indonesia

nyumudcumprit19122011@gmail.com 


PEMBUATAN PROPOSAL

TUGAS BAHASA INDONESIA
KELAS XI IPS 1



Disusun oleh:
Nama Kelompok:
1. Tadicha Wening M. (23)
2. Umi Nurkayatun (24)



MADRASAH ALIYAH NEGERI WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2012/2013


PROPOSAL PERINGATAN
HARI ULANG TAHUN DESA GEMUTREN
1. LATAR BELAKANG
Penyelenggaraan kegiatan olahraga merupakan sebuah agenda/kalender tahunan yang selalu dilaksanakan Karang Taruna "BIMA SAKTI" Desa Gemutren untuk memperingati Hari Ulang Tahun Desa Gemutren. Ada beberapa pertimbangan dilaksanakannya Pekan Olahraga Desa Gemutren, diantaranya:
1. Memeriahkan Hari Ulang Tahun Desa Gemutren ke-271.
2. Menggali potensi atlet-atlet potensial dalam bidang olahraga Sepak Bola dan Bola Voli agar mampu berkiprah pada even yang lebih tinggi.
3. Menjalin kebersamaan, persatuan, dan kesatuan generasi muda di Desa Gemutren.
4. Menciptakan sikap sportivitas dalam bidang olahraga khususnya dan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Mengangkat nama baik daerah melalui kegiatan olahraga.
6. Sarana hiburan bagi masyarakat untuk menghilangkan stres ditengah berbagai masalah himpitan ekonomi.
Sesuai dengan pertimbangan diatas, Kami Pengurus Karang Taruna "BIMA SAKTI" Desa Gemutren merasa tertantang untuk memberikan yang terbaik guna menyukseskan Pekan Olahraga Desa Gemutren.

2. NAMA KEGIATAN/SASARAN
Nama Kegiatan :Pekan Olahraga Ulang Tahun Desa Gemutren Ke-271.
Sasaran :Seluruh warga Desa Gemutren.

3. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud:Menyelenggarakan kegiatan olahraga dalam rangka memperingati ulang tahun Desa Gemutren ke-271.
Tujuan:
a. Membina dan menyatukan tujuan serta memperkokoh tali persaudaraan generasi muda di Desa Gemutren.
b. Memanfaatkan potensi generasi muda di Desa Gemutren dalam bidang olahraga.
Membina dan mengembangkan minat dan bakat atlet di Desa Gemutren.
c. Menyalurkan minat dan bakat generasi muda Desa Gemutren.

4. JENIS-JENIS KEGIATAN
1. Sepak Bola
2. Bola Voli

5. PANITIA
Penyelenggara :Karang Taruna "BIMA SAKTI" Desa Gemutren.

6. ALOKASI DANA
 Kegiatan Awal:
• Biaya rapat Rp 100.000,00
• Pembuatan proposal Rp 50.000,00
• Administrasi Rp 50.000,00
• Transport Rp 50.000,00
Jumlah Rp 250.000,00

 Sepak Bola:
• Piala / Tropi (Juara I, II, III) Rp 500.000,00
• Uang Pembinaan Rp 400.000,00
• Juara I Rp 300.000,00
• Juara II Rp 200.000,00
• Juara III Rp 150.000,00
• Wasit (2 x Rp. 50.000,00) Rp 100.000,00
• Konsumsi Rp 520.000,00
• Administrasi Rp 50.000,00
• Speaker / listrik Rp 100.000,00
• Transport Rp 100.000,00
• Obat-obatan Rp 25.000,00
Jumlah Rp 2.245.000,00

 Bola Voli:
• Piala / Tropi (Juara I, II, III) Rp 500.000,00
• Uang Pembinaan Rp 150.000,00
• Juara I Rp 300.000,00
• Juara II Rp 250.000,00
• Juara III Rp 200.000,00
• Wasit (3 x Rp. 35.000,00) Rp 105.000,00
• Konsumsi Rp 130.000,00
• Administrasi Rp 30.000,00
• Speaker / listrik Rp 50.000,00
• Transport Rp 75.000,00
• Obat-obatan Rp 25.000,00
Jumlah Rp 1.315.000,00

Total Anggaran Biaya Rp 3.810.000,00

Anggaran Biaya Tersedia Rp750.000,00
• Anggaran Karang Taruna
• Pendaftaran peserta:
1. Sepak Bola (44 x 25.000,00) Rp 1.100.000,00
2. Bola Voli (36 x 15.000,00)Rp 540.000,00

Jumlah Rp 1.640.000,00

Jumlah Devisit Anggaran Rp5.450.000,00

7. JADWAL KEGIATAN
Waktu:tanggal 15-17 November 2012
Tempat:
a. Sepak Bola bertempat di Lapangan Sepak Bola Desa Pule.
b. Bola Voli bertempat di Lapangan Voly Ball Desa Gemutren.

8. PENUTUP
Dengan memohon rahmat dan hidayah-Nya perkenankan Kami menyampaikan Proposal ini kepada Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sudilah kiranya menelaahnya. Kami mengharapkan bantuan atau peran serta yang ikhlas dari Bapak/Ibu/Saudara/Saudari demi lancarnya kegiatan Kami.
Dengan segala kerendahan dan ketulusan hati Bapak/Ibu/Saudara/Saudari, Kami ucapkan terima kasih.

Gemutren,1 November 2012

Ketua Karang Taruna/Ketua Panitia Sekretaris



Reza Hermawan Dwi Puspita Sari



Mengetahui
Ketua RT Desa Gemutren



Sutarno








IPS GEOGRAFI

nyumudcumprit19122011@gmail.com




Disusun dengan:

Tema:Usaha Penanggulangan Pertumbuhan yang Sangat Pesat
Judul:Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia

Kelompok 4:
Ketua :Tadicha Wening M.
Pemateri :Diah Ayu M.
Penulis :Umi N.
Anggota :
1. Imam Ridho
2. Fisabil Isac R.


MADRASAH ALIYAH NEGERI WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2012/2013


i
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN

Karya Tulis ini telah disetujui oleh guru pembimbing karya tulis dan disahkan oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri sebagai salah satu tugas mata pelajaran IPS Geografi Tahun Pelajaran 2012/2013.
Telah disetujui:

Pada hari:
Tanggal:








Mengetahui/Mengesahkan

Kepala Madrasah Guru Pembimbing



Drs.H.Nuri Hartono Dewi Lestari,S.Pd
NIP.196410191194031001 NIP.197605232007102001





ii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ini dipersembahkan kepada:
1. Allah SWT,yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga terciptanya karya tulis ini,
2. Ibu Dewi Lestari,S.Pd sebagai guru pembimbing,
3. Teman-teman kelas XI IPS 1 yang mendukung saya,dan
4. Teman-teman kelompok saya yang saya sayangi.























iii
MOTTO
1. Bercita-citalah setingggi mungkin,
2. Hidup hanya sekali,jadi manfaatkanlah sebaik mungkin,
3. Jika disuruh memilih antara ketekunan dan kepandaian,pilihlah ketekunan,
4. Bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang kemudian,
5. Pandai-pandailah memilih teman yang baik.






















iv
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucapkan kepada Allah SAW, yang karena bimbingan-Nyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah karya tulis geografi bertema”Usaha Penanggulangan Pertumbuhan yang Sangat Pesat”berjudul "Masalah Kepadatan Penduduk di Indonesia".
Makalah ini dibuat dengan kerjasama dalam jangka waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan makalah ini. Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.



Wonogiri,6 Oktober 2012





Penyusun


v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………..... i
HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN………... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN………………………………… iii
MOTTO…………………………………………………………. iv
KATA PENGANTAR…………………………………………... v
DAFTAR ISI…………………………………………………….. vi
BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………….. 1
1. Latar Belakang……………………………………………. 1
2. Rumusan Masalah………………………………............... 1
BAB 2 PEMBAHASAN………………………………................ 2
A. Pengertian Penduduk…………………………………….. 2
B. Dampak Kepadatan Penduduk Terhadap Lingkungan…2-3
C. Solusi Mengatasi Masalah Kepadatan Penduduk ………3-4
BAB 3 PENUTUP……………………………………………….. 5
A. Kesimpulan………………………………………………... 5
B. Kritik dan Saran……………………………………. ……. 5
DAFTAR PUSTAKA………………………………..…….……. 6

















vi
MASALAH KEPADATAN PENDUDUK DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Variabel-variabel dalam problema kependudukan sangatlah kompleks, meliputi penduduk itu sendiri, kemiskinan, kesempatan kerja, permukiman, kesehatan, gizi pendidikan, kejahatan, pencemaran lingkungan, krisis ekonomi, kelaparan, sandang, air bersih, kebodohan, keterbelakangan, fasilitas umum (fasum), fasilitas social (fasos). Nyaris faktor kepadatan penduduk menjadi pangkal segala problematika kehidupan manusia itu sendiri.
Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang besar, yaitu menurut sensus 1991 terdapat hampir 200 juta orang. Jumlah penduduk yang besar itu bertambah pula dengan cepat, walaupun program keluarga berencana (KB) telah dilakukan secara intensif. Menurut perhitungan Sensus 1981, rata-rata laju pertumbuhan penduduk ialah 2,32% per tahun.
Dilihat dari tekanan penduduk, bahwa pertumbuhan penduduk memerlukan tambahan lahan untuk produksi pangan dan pemukiman dengan segala aktivitasnya.
2. Rumusan Masalah
A. Apa pengertian penduduk?
B. Apa dampak kepadatan penduduk terhadap lingkungan?
C. Apa solusi yang dapat mengatasi masalah kepadatan penduduk?











1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Penduduk
Penduduk dikonotasikan sebagai orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat, kampung, wilayah atau negeri, dan merupakan aset pembangunan atau sering disebut sumber daya manusia (SDA).
Penambahan penduduk yang cepat menyebabkan tingkat kepadatan penduduk menjadi tinggi. Kepadatan penduduk dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk untuk setiap satu kilometer persegi. Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan jumlah penduduk di suatu daerah dengan luas daerah yang ditempati.

B. Dampak kepadatan penduduk terhadap lingkungan
a. Berkurangnya Ketersediaan Lahan
Peningkatan populasi manusia atau meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan tingkat kepadatan semakin tinggi .Pada sisi lain ,luas tanah atau lahan tidak bertambah.Kepadatan penduduk dapat mengakibatkan tanah pertanian semakin berkurang karena digunakan untuk pemukiman penduduk.
b. Kebutuhan Udara Bersih
Setiap makluk hidup membutuhkan oksigen untuk pernapasan .Demikian pula manusia sebagai makluk hidup juga membutuhkan oksigen untuk kehidupanya.Manusia memperoleh oksigen yang dibutuhkan melalui udara bersih .Udara bersih berati udara yang tidak tercemar,sehingga huyakitas udara terjaga dengan baik.Dengan udara yang bersih akan diperoleh pernapasan yang sehat.
c. Kerusakan Lingkungan
Setiap tahun, hutan dibuka untuk kepentingan hidup manusia seperi untuk dijadikan lahan pertanian atau pemukiman .Para ahli lingkungan memperkirakan lebih dari 70% hutan di dunia yang alami telah ditebang atau rusak parah .Menigkatnya jumlah penduduk akan diiringi pula dengan meningkatnya penggunaan sumber alam hayati. Adanya pembukaan hutan secara liar untuk dijadikan tanah pertaniaan atau untuk mencari hasil hutan sebagai mata pencaharian penduduk akan merusak ekosistem hutan.
d. Kebutuhan Air Bersih
Air merupakan kebutuhan mutlak makhluk hidup .Akan tetapi,air yang dibutuhkan
2
manusia sebagai mkhluk hidup adalah air bersih. Air bersih digunakan untuk kebutuhan penduduk atau rumah tangga sehari-hari. Bersih merupakan air yang memenuhi syarat kualitas yang meliputi syarat fisika ,kimia ,dan biologi. Syarat kimia yaitu air yang tidak mengandung zat-zat kimia yang membahayakan kesehatan manusia. Syarat fisika yaitu air tetap jernih (tidak brubah warna), tidak ada rasa, dan tidak berbau. Syarat biologi yaitu air tidak mengandung mikrooganisme atau kuman-kuman penyakit.
e. Kekurangan Makanan
Manusia sebagai mahkluk hidup membutuhan makanan. Dengan bertambahnya jumlah populasi manusia atau penduduk, maka jumlah kebutuhan makanan yang diperlukan juga semakin banyak. Bila hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan produksi pangan, maka dapat terjadi kekurangan makanan .Akan tetapi,biasanya laju pertambahan penduduk lebih cepat daripada kenaikan produksi pangan makanan. Ketidakseimbangan antara bertambahnya penduduk dengan bertambahnya produksi pangan sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Akibatnya, penduduk dapat kekurangan gizi atau pangan. Kekurangan gizi menyebabkan daya tahan tubuh seseorang terhadap suatu penyakit rendah, sehingga mudah terjangkit penyakit.
f. Pencemaran air
Disebabkan oleh limbah rumah tangga dan limbah industri.

C. Solusi Mengatasi Masalah Kepadatan Penduduk
Menurut Thomas Robert Malthus pertambahan jumlah penduduk adalah seperti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, ...), sedangkan pertambahan jumlah produksi makanan adalah bagaikan deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ...). Hal ini tentu saja akan sangat mengkhawatirkan di masa depan di mana kita akan kerurangan stok bahan makanan.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
1. Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran.
2. Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.
 Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk :
1. Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
3
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.
2. Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga berencana.
3. Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi
Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
4. Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya.


























4
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa penduduk merupakan orang-orang yang menduduki suatu tempat, wilayah atau Negara. Penambahan penduduk yang cepat menyebabkan tingkat kepadatan penduduk menjadi tinggi. Dampak kepadatan penduduk terhadap lingkungan antara lain:
a. Berkurangnya Ketersediaan Lahan
b. Kebutuhan Udara Bersih
c. Kerusakan Lingkungan
d. Kebutuhan air bersih
e. Kekurangan makanan, dan
f. Pencemaran lingkungan
 Adapun hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk adalah:
 Menggalakkan program KB (Keluarga Berencana)
 Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi
 Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengimbangi pertambahan jumlah penduduk antara lain:
• Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
• Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
• Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi
• Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
B. Kritik dan Saran
Demikiankah makalah yang dapat penulis sampaikan. Sebagai pemakalah kami menyadari banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua, Amin.


5

DAFTAR PUSTAKA
Mufid, sofyan Anwar. 2010.Ekologi Manusia. Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
Soemarwoto,Otto,2004.Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan.Jakarta:Djambatan.
Soemarwoto,Otto.2007.Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.
http://www.jawaposting.blogspot.com/2011/04/masalah-kepadatan-penduduk.html.



________________________________________
[1]Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S., Ekologi Manusia,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), hlm. 189
[2] Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan,(Jakarta: Djambatan, 2004), hlm. 204
[3] Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S., hlm.189
[4] Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S., hlm.190
[5] Irfan, 17 April 2011, http://www.jawaposting.blogspot.com, 30 September 2011, 12.45
[6] Otto Soemarwoto, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2007), hlm.207.
[7] Irfan, 17 April 2011, http://www.jawaposting.blogspot.com, 30 September 2011, 12.45











Selasa, 25 Februari 2014

Laporan Kunjunganku

nyumudcumprit19122011@gmail.com 

LAPORAN KUNJUNGAN KE MUSEUM MANUSIA PURBA SANGIRAN

Laporan Kunjungan ini disusun untuk memenuhi Pendidikan serta Penilaian Program Ilmu Pengetahuan Sosial Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri
Tahun Pelajaran 2013/2014

Disusun Oleh:

1. Arbain Iswadi
2. Auliya Khosyian Bena
3. Auliya Nugraheni Putri
4. Hajar Mustofa
5. Herlina Rosita Wulandari
6. Nasya Laksita Rini
7. Primasiwi Wardani
8. Tadicha Wening Mahanani
9. Tri Hastuti

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS)
MADRASAH ALIYAH NEGERI WONOGIRI
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
i
PENGESAHAN

Laporan Kunjungan ke Museum Manusia Purba Sangiran ini diterima dan disahkan oleh Kepala Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri untuk memenuhi Pendidikan Program Ilmu Pengetahuan Sosial Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri tahun ajaran 2013/2014.








Wonogiri,…………
Kepala Madrasah

Drs.H.Nuri Hartono
NIP.1964 10 19 1994 03 1001









ii
PERSETUJUAN
Laporan kunjungan Museum Manusia Purba Sangiran ini telah diterima dan disetujui oleh pembimbing sebagai tugas kelas XII Program Ilmu Pengetahuan Sosial Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri tahun 2013/2014.








Wonogiri,……………….
Guru Pembimbing


Retno Anik Christiani,S.Pd
NIP.1969 12 26 1995 121001




iii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya tulis ini dipersembahkan kepada:
1. Allah SWT,yang telah melimpahkan karunia-Nya sehingga terciptanya karya tulis ini,
2. Ibu Retno Anik Christiani,S.Pd sebagai guru pembimbing,
3. Teman-teman kelas XII IPS yang mendukung saya,dan
4. Teman-teman kelompok saya yang saya sayangi.





























iv
MOTTO
1. Bercita-citalah setingggi mungkin,
2. Hidup hanya sekali,jadi manfaatkanlah sebaik mungkin,
3. Jika disuruh memilih antara ketekunan dan kepandaian,pilihlah ketekunan,
4. Bersakit-sakit dahulu,bersenang-senang kemudian,
5. Pandai-pandailah memilih teman yang baik.
6. Sejarah bukan rangkaian cerita , ada banyak pelajaran , kebanggaan dan harta didalamnya.














v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Alllah SWT atas limpahan rahmat serta hidayahNya,sehingga penulis dapat menyelesaikan Penyusunan Laporan Kunjungan ke Museum Manusia Purba Sangiran.Laporan Kunjungan ini disusun untuk memenuhi Pendidikan serta Penilaian Program Ilmu Pengetahuan Sosial Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri tahun pelajaran 2013/2014.
Adapun tujuan Penulisan Laporan Kunjungan ini adalah salah satu proses belajar mengajar tahun 2013/2014.
Penyusunan Laporan Kunjungan ini tidak lepas dari bantuan,arahan dan bimbingan dari berbagai pihak untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Drs.H.Nuri Hartono selaku Kepala Madrasah Aliyah Negeri Wonogiri,
2. Ibu Retno Anik Christiani,S.Pd selaku guru pembimbing,
3. Orang tuaku yang selalu mendoakan setiap langkahku,kasih sayangnya dan perhatian yang telah diberikan,serta memberikan dorongan,
4. Saudara-saudara saya yang selalu memberi semangat,nasehat dan dukungannya,
5. Teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan namanya
satu-persatu,terima kasih atas segala bantuannya,
6. Semua pihak yang telah membantu penulisan dalam menyelesaikan karya tulis ini.


vi
Penulis menyadari bahwa Laporan Kunjungan ini masih jauh dari sempurna,maka dari itu penulis bersedia dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang budiman.
Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi suatu sumbangan yang bermanfaat bagi kehidupan.



Wonogiri,………

Penulis






















vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………. i
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………... ii
HALAMAN MOTTO ………………………………………………… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………............... iv
KATA PENGANTAR ……………………………………………….. v-vi
DAFTAR ISI ………………………………………………………… viii-ix
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1
1.1.Latar Belakang Masalah ………………………………… 1-2
1.2.Identifikasi Masalah …………………………………….. 2-3
1.3. Pembatasan Masalah……………………………………... 3-4
1.4.Perumusan Masalah ……………………………………… 4
1.5. Manfaat Penulisan…………….....……………………….. 4-5
BAB II METODOLOGI PENELITIAN ……...…………………….. 5
2.1. Tujuan Penelitian …………………………………........... 6
2.2. Tempat Penelitian ……………………………………….. 6
2.3. Waktu Penelitian ……………………………………… ... 6
2.4. Metode Penelitian ……………………………………….. 7-8
BAB III HASIL PENELITIAN……………………………..……… 9
3.1. Sejarah terbentuknya Museum Purbakala Sangiran……… 9-13
3.2. Keadaan geo-stratigrafi dan pertanggalan manusia purba
Homo erectus……………………………………………..14-19
viii
3.3. Pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat
di Museum Sangiran…………………………………...... 19-21
3.4.Pengembangan Museum Purbakala Sangiran…………….21-24
BAB IV PENUTUP …………………………………………………. 25
4.1.Kesimpulan ……………………………………………… 25-26
4.2.Saran-saran ……………………………………………. .. 26-27
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………. 27
LAMPIRAN……………………………………………………….. .. 28-35


























ix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diandalkan pemerintah untuk memperoleh devisa dari penghasilan non migas. Peranan pariwisata dalam pembangunan nasional, disamping sebagai sumber perolehan devisa juga banyak memberikan sumbangan terhadap bidang-bidang lainnya, diantaranya menciptakan dan memperluas lapangan usaha, meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah, mendorong pelestarian lingkungan hidup dan budaya bangsa, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi kawasan tujuan wisata dunia, karena mempunyai tiga unsur pokok yang membedakan Indonesia dengan negara lain.
Hal tersebut merupakan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Indonesia, karena rasa keingintahuannya, potensi pertama adalah masyarakat (people), masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahannya dan bisa bersahabat dengan bangsa manapun, potensi kedua adalah alam (nature heritage), Indonesia mempunyai alam yang indah, yang tidak dipunyai negara-negara lain, misalnya pegunungan yang ada di setiap pulau, pantai yang indah, goa, serta hamparan sawah yang luas dan enak untuk dinikmati, potensi ketiga adalah budaya (cultural heritage),

1
2
Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan budaya yang beragam. Setiap suku, Kota, dan pulau mempunyai ciri khas, baik dari segi logat, baju, bangunan rumah, musik, maupun upacara-upacara adat dan transportasi tradisionalnya, semuanya menjadi ciri khas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya budaya, ketiga unsur tersebut yang akan mendukung pesatnya kemajuan pariwisata Indonesia.
Indonesia dikenal mempunyai sejarah dan budaya yang beraneka ragam, budaya juga meliputi sistem pengetahuan dan sistem ide gagasan yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, seperti pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
1.2.Identifikasi Masalah
Museum Sangiran yang berada di dalam area Situs Sangiran ini adalah museum situs yang diperuntukkan dan dipersiapkan untuk menampung temuan-temuan dari situs Sangiran yang luas wilayahnya ± 56 km² dan mencakup dua kabupaten, 4 kecamatan, 22 desa, dan 151 dusun. Karena wilayahnya berada di dua kabupaten, yaitu kabupaten Sragen, dan kabupaten Karanganyar, maka penanganannya sampai saat ini masih menjadi pertanggungjawaban pusat, yaitu Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata melalui UPT daerah, yaitu Balai
3
Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah yang berkedudukan di Prambanan.
Kawasan Sangiran ditetapkan sebagai daerah cagar budaya pada tahun 1997 melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk melestarikan dan melindungi situs Sangiran.
Selanjutnya untuk meningkatkan status situs Sangiran di mata dunia, maka pada tanggal 25 Juni 1995, situs Sangiran telah dinominasikan ke UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia dan dicatat dalam “World Heritage List” nomer 593 dengan nama “ Sangiran Early Man Site”. (Dalam WHC-96/ Conf. 2201/ 21).Ketetapan ini kemudian secara resmi disebarluaskan oleh UNESCO melalui UNESCO-PERS Nomor 96-215.
1.3.Pembatasan Masalah
Nama Situs Sangiran telah cukup terkenal diantara jajaran situs-situs manusia purba lain di dunia, yang jumlahnya sangat terbatas. Situs Sangiran dianggap penting karena memiliki beberapa keutamaan dibandingkan dengan situs-situs lain di dunia.Situs Sangiran juga memiliki potensi yang cukup besar yang membuatnya hingga saat ini selalu menjadi ajang penelitian dan studi evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai penjuru dunia.

4
Koleksi-koleksi yang dimiliki oleh situs Sangiran sangat beragam dan tetap utuh seperti saat ditemukan, oleh karena kepandaian pihak pengelola museum Sangiran yang membagi tiap-tiap temuan dalam 15 vitrin.
Keberadaan situs Sangiran menjadi sebuah poin positif yang membanggakan nama Indonesia di mata dunia. Semua itu dapat terjadi juga oleh peran serta pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat yang berdampak situs Sangiran menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.
1.4.Perumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah terbentuknya Museum Purbakala Sangiran?
2. Bagaimana keadaan geo-stratigrafi dan pertanggalan manusia purba Homo erectusyang ada di Sangiran?
3. Bagaimana pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di Museum Purbakala Sangiran?
4. Bagaimana pengembangan Museum Purbakala Sangiran?
1.5. Manfaat Penulisan
1.4.1. Manfaat Bagi Penulis :
1. Bangga menjadi warga Negara Indonesia
2. Menambah wawasan dan pengetahuan sejarah mengenai peradaban manusia purbadi Indonesia
3. Mempelajari dan memahami cara penulisan karya tulis yang benar
5
1.4.2. Manfaat Bagi Peneliti/ Penulis Lain :
1. Karya tulis ini dapat dijadikan bahan acuan/ referensi pada penelitian/ penulisanselanjutnya
2. Menjadikan karya tulis ini sebagai isi tinjauan pustaka dari karya tulis peneliti/penulis lain
3. Sebagai contoh karya tulis yang benar
1.4.3. Manfaat Bagi Pembaca :
1. Bagai mengunjungi museum Sangiran secara nyata padahal hanya membacasebuah karya tulis
2. Menambah ilmu pengetahuan pembaca mengenai sejarah museum purba diIndonesia
3. Menjadikan situs Sangiran menjadi salah satu target wisata bersama keluarga









BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan karya tulis ini penulis mempunyai berbagai tujuan yang antara lain sebagai berikut:
1. Untuk melengkapi tugas penulis pada pelajaran Geografi
2. Untuk mengetahui sejarah situs Sangiran hingga dapat terkenal dikalangan situs-situs
2.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Museum Manusia Purba, di dalam situs Sangiran yang wilayahnya berada di dua kabupaten (kabupaten Sragen, dan kabupaten Karanganyar), propinsi Jawa Tengah. Secara astronomis, situs Sangiran terletak antara 110º49’ hingga 110º53’ Bujur Timur dan diiantara 07º24’ hingga 07º30’.
2.3. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada hari selasa, 4 Mei 2012.Pukul 13.00-14.00 WIB.


6
7
2.4. Metode Penelitian
Dalam rangka pengumpulan data yang diperlukan, penulis menggunakan beberapa metode penelitian, yaitu sebagai berikut :

2.4.1. Metode Pengamatan (observasi)
Adalah suatu cara mengumpulkan data melalui pengamatan indrawi, dengan melakukan pencatatan secara langsung ditempat penelitian(Antropologi 1994).
Bahan-bahan amatan yang digunakan oleh penulis adalam metode pengamatan adalah:
a. pelaku atau partisipan,
b. kegiatan,
c. tujuan,
d. perasaan,
e. ruang atau tempat,
f. waktu dan
g. benda atau alat.
Untuk memperoleh hasil yang baik, seseorang memperhatikan prinsip-prinsip pengamatan yaitu antara lain:
a. pengamatan sebagai suatu cara pengumpulan data harus dilakukan secara cermat,jujur dan obyektif ,serta terfokus pada obyek yang diteliti,
8
b. dalam menentukan obyek yang diamati, seorang pengamat harus mengingat bahwa semakin banyak obyek yang diamati, semakin sulit pengamatan dilakukan dan semakin tidak teliti hasilnya,
c. sebelum pengamatan dilakukan, pengamat sebaiknya menentukan cara dan prosedur pengamatan dan
d. agar pengamat lancar, pengamat perlu memahami apa yang hendak dicatat serta bagaimana membuat catatan atas hasil pengamatan yang terkumpul.
2.4.2. Metode Study Pustaka atau Dokumenter
Yaitu : metode pengumpulan data-data yang diperoleh dari buku-buku,media massa,catatan resmi.











BAB III
HASIL PENELITIAN
3.1. Sejarah terbentuknya Museum Purbakala Sangiran
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi (Situs Manusia Purba) di Jawa, Indonesia.Sangiran terletak di sebelah utara Kota Solo dan berjarak sekitar 15 km (tepatnya di desa krikilan, kec. Kalijambe, Kab.Sragen). Gapura Situs Sangiran berada di jalur jalan raya Solo–Purwodadi dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso (Kabupaten Karanganyar).Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Situs Sangiran, Desa Krikilan.Jarak dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan ± 5 km.
Situs Sangiran memunyai luas sekitar 59, 2 km² (SK Mendikbud 070/1997) secara administratif termasuk kedalam dua wilayah pemerintahan, yaitu: Kabupaten Sragen (Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Gemolong, dan Kecamatan Plupuh) dan Kabupaten Karanganyar (Kecamatan Gondangrejo), Provinsi Jawa Tengah (Widianto & Simanjuntak, 1995). Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya. Oleh Karenanya Dalam sidangnya yang ke 20 Komisi Warisan Budaya Dunia di Kota Marida, Mexico tanggal 5 Desember 1996, menetapkan Sangiran sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia “World Heritage List” Nomor : 593. Dengan demikian pada tahun tersebut situs ini terdaftar dalam Situs Warisan Dunia UNESCO.

9
10
Pada awalnya Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan di masa lampau.Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia.
Di museum dan situs Sangiran dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi.Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.Di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini.Relatif utuh pula.Sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan.
Bentang lahan situs tersebut meliputi areal seluas ± 48 km2 yang berbentuk seolah seperti kubah (dome), sehingga situs tersebut dinamakan dengan Sangiran Dome.Situs Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat berperan penting dalam perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology di Indonesia. Pada tahun 1934 penelitian yang dilakukan oleh

11
G.H.R. von Koenigswald yang menemukan beberapa alat sepih yang terbuat dari batu kalsedon di atas bukit Ngebung, arah Baratlaut Sangiran Dome.
Berdasarkan penelitian geologis, situs Sangiran merupakan kawasan yang tersingkap lapisan tanahnya akibat proses orogenesa (pengangkatan dan penurunan permukaan tanah) dan kekuatan getaran di bawah permukaan bumi (endogen) maupun di atas permukaan bumi (eksogen). Aliran Sungai Cemoro yang melintasi wilayah tersebut juga mengakibatkan terkikisnya kubah Sangiran menjadi lembah yang besar yang dikelilingi oleh tebing-tebing terjal dan pinggiran-pinggiran yang landai.Beberapa aktifitas alam di atas mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah/formasi periode pleistocen yang susunannya terbentuk pada tingkat-tingkat pleistocen bawah (lapisan Pucangan), pleistocen tengah (lapisan Kabuh), dan pleistocen atas (lapisan Notopuro).Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di laipsan-lapisan tersebut berasosiasi dengan fosil-fosil fauna yang setara dengan lapisan Jetis, lapisan Trinil, dan lapisan Ngandong.
Diperkirakan situs Sangiran pada masa lampu merupakan kawasan subur tempat sumber makanan bagi ekosistem kehidupan.Keberadaanya di wilayah katulistiwa, pada jaman fluktuasi jaman glassial-interglassial menjadi tempat tujuan migrasi manusia purba untuk mendapatkan sumber penghidupan.Dengan demikian kawasan sangiran pada kala pleistocen menjadi tempat hunian dan ruang subsistensi bagi manusia pada masa itu.

12
Tempat-tempat terbuka seperti padang rumput, semak belukar, hutan kecil dekat sungai atau danau menjadi pilihan sebagai tempat hunian manusia pada kala pleistocen. Mereka membuat pangkalan (station) dalam aktifitas perburuan untuk m,endapatkan sumber kebutuhan hidupnya. Pilihan situs Sangiran dome sebagai pangkalan aktifitas perburuan mengingatkan kita dengan living floor (lantai hidup) atau old camp site di lembah Olduvai, Tanzania (Afrika). Indikasi suatu situs sebagai tempat hunian dan ruang subsistensi adalah temuan fosil manusia purba, fauna, dan artefak perkakas yang ditemukan saling berasosiasi.
Secara geo-stratigrafis, Situs Sangiran yang posisinya berada pada depresi Solo di kaki Gunung Lawu ini dahulu merupakan suatu kubah (dome) yang tererosi di bagian puncaknya sehingga menyebabkan terjadinya reverse (kenampakan terbalik). Kondisi deformasi geologis seperti ini kemudian semakin diperjelas oleh aliran Kali Brangkal, Cemoro dan Pohjajar (anak-anak cabang Bengawan Solo) yang mengikis situs ini mulai di bagian utara, tengah dan selatan. Akibat dari kikisan aliran sungai tersebut maka menyebabkan lapisan-lapisan tanah tersingkap secara alamiah dan memperlihatkan berbagai jejak fosil (manusia purba dan hewan vertebrata) (Widianto & Simanjuntak 1995).
Sejarah atau riwayat penelitian di Situs Sangiran bermula dari laporan GHR.Von Koenigswald yang menemukan sejumlah alat serpih dari bahan batuan jaspis dan kalsedon di sekitar bukit Ngebung pada tahun 1934 (Koenigswald, 1936). Temuan alat-alat serpih yang kemudian terkenal dengan
13
istilah ‘Sangiran Flakes-industry’ tersebut diperkirakan berasal dari lapisan (seri) Kabuh Atas yang berusia Plestosen Tengah. Namun hasil pertanggalan tersebut banyak dikritik oleh para ahli (de Terra, 1943; Heekeren, 1972) karena temuan tersebut dihubungkan dengan konteks Fauna Trinil yang tidak autochton (Bartstra dan Basoeki, 1984: 1989) atau bukan dari hasil pengendapan primer (Bemellen, 1949).
Penelitian di situs ini menjadi semakin menarik dan berkelanjutan ketika pada tahun 1936 ditemukan fragmen fosil rahang bawah (mandibula) manusia purba Homo erectus yang kemudian disusul oleh temuan fosil-fosil lainnya.Setelah masa pasca Koenigswald atau pada sekitar tahun 1960-an, penelitian terhadap fosil-fosil hominid dan paleotologis di situs ini kemudian diambil alih oleh para peneliti dari Indonesia (antara lain T. Jacob dan S. Sartono) serta terus berkelanjutan sampai sekarang. Penelitian yang sangat ‘spektakuler’ terjadi ketika Puslit Arkenas melakukan kerjasama penelitian dengan Museum National d’Histoire Naturelle (MNHN), Perancis melalui ekskavasi besar-besaran selama 5 tahap (tahun 1989 – 1993) di bukit Ngebung yang menghasilkan sejumlah temuan secara ‘insitu’ dan pertanggalan absolut yang sangat menarik. Penelitian Situs Sangiran semakin berkembang pesat dalam dekade lima tahun belakangan ini setelah Balar Yogya ikut berpartisipasi langsung dan melakukan program-program penelitian secara intensif dan terpadu (Widianto 1997; Jatmiko 2001).

14
3.2. Keadaan geo-stratigrafi dan pertanggalan manusia purba Homo erectus
Sangiran adalah sebuah situs paleontologis yang terlengkap di Indonesia dan cukup terkemuka di dunia.Keberadaan situs ini secara resmi telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan budaya dunia sejak bulan Desember 1996 (Widianto 2000). Dari sekitar 100 individu temuan fragmen fosil manusia purba yang didapatkan di Indonesia, hampir 65% -nya berasal dari Situs Sangiran dan mencakup sekitar 50 % dari populasi taxon Homo erectus di dunia. Pada umumnya fosil-fosil tersebut ditemukan secara kebetulan (temuan penduduk) dan dalam bentuk fragmenter; yaitu antara lain berupa tulang-tulang tengkorak, mandibula dan femur. Fosil-fosil tersebut ditemukan pada beberapa tempat atau lokasi utama di Pulau Jawa; yaitu antara lain di Pati Ayam, Sangiran, Ngandong dan Sambungmacan (Jawa Tengah) serta di daerah Trinil dan Perning (Jawa Timur). Berdasarkan bentuk fisik dan lingkungan endapan asalnya, secara umum temuan fosil-fosil manusia purba di Indonesia dikategorikan menjadi 3 kelompok utama (Widianto, 1996); yaitu kelompok Pithecanthropus arkaik yang berasal dari Formasi Pucangan (Plestosen Bawah) yang ditaksir mempunyai usia antara 1,7 – 0,7 tahun. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meganthropus palaeojavanicus dan Pithecanthropus mojokertensis. Kelompok kedua adalah jenis Pithecanthropus klasik yang berasal dari Formasi Kabuh (Plestosen Tengah) yang mempunyai usia sekitar 800.000 – 400.000 tahun. Jenis kelompok ini (Homo erectus) yang paling banyak ditemukan di Sangiran. Kelompok yang ketiga adalah Pithecanthropus progresif yang berasal dari Formasi Notopuro (Plestosen
15
Atas) dan mempunyai umur antara 400.000 – 100.000 tahun.Termasuk dalam kelompok ini adalah temuan Homo soloensis dari Ngandong dan Trinil (Widianto 1996, Semah et.al. 1990).
Dome Sangiran merupakan daerah yang tersingkap. Berdasarkan hasil penelitian terbentuknya Dome Sangiran merupakan peristiwa geologis yaitu diawali pada 2,4 juta tahun yang lalu terjadi pengangkatan,gerakan lempeng bumi,letusan gunung berapi dan adanya masa glasial sehingga terjadi penyusutan air laut yang akhirnya membuat wilayah Sangiran terangkat keatas, hal ini dibuktikan dengan endapan yang bisa kita jumpai di sepanjang Sungai Puren yang tersingkap lapisan lempeng biru dari Formasi Kalibeng yang merupakan endapan daerah lingkungan lautan dan hingga sekarang ini banyak sekali dijumpai fosil-fosil moluska laut.
Dari pengamatan stratigrafi batuannya, ada beberapa formasi, diantaranya :
1. Formasi Kalibeng
Lempung biru yang membentuk apa yang disebut kalangan arkeolog sebagai Formasi Kalibeng di bagian paling bawah adalah endapan paling tua. Endapan itu tercipta sejak 2,4 juta tahun lalu ketika daerah ini masih merupakan lingkungan laut dalam. Di dalam lapisan lempung biru, selain mengandung foraminifera dan jenis mollusca laut (turitella, arca, nasarius, dan lain-lain) juga ditemukan fosil ikan, kepiting, dan gigi ikan hiu. Berumur 2,4 juta s/d 1.8 juta tahun lalu.Dengan lapisan:
1. Lapisan napal (Marl)
16
2. Lapisan lempung abu-abu (biru) dari endapan laut dalam
3. Lapisan foraminifera dari endapan laut dangkal
4. Lapisan balanus batu gamping
5. Lapisan lahar bawah dari endapan air payau
2. Formasi Pucangan
Formasi ini berada diatas lapisan atau formasi kalibeng. Sekitar 1.800.000 – 700.000 tahun yang lalu formasi ini merupakan rawa pantai dan di dalam lapisan ini terbentuk endapan diatomit yang mengandung cangkang diatomea laut. Formasi ini berupa lempung hitam dan mulai terbentuk dari endapan lahar Gunung Merapi purba dan Gunung Lawu purba. Formasi Pucangan banyak mengandung fosil manusia purba dan hewan mamalia, antara lain reptil (buaya dan kura-kura), mamalia, rusa, bovidae, gajah, babi, monyet, domba, dan fosil kayu. Berumur 1.8 juta s/d 700 ribu tahun lalu. Dengan lapisan:
1. Lapisan lempung hitam (kuning) dari endapan air tawar
2. Lapisan batuan kongkresi
3. Lapisan lempung volkanik (Tuff) (ada 14 tuff)
4. Lapisan batuan nodul
5. Lapisan batuan diatome warna kehijauan
3. Formasi Grenzbank
Pada 700.000 tahun yang lalu formasi grenzbank terletak diatas formasi Pucangan. Terbentuknya formasi ini terjadi erosi pecahan gamping pisoid dari pegunungan selatan yang terletak di selatan Sangiran dan kerikil-kerikal
17
vulkanik dari Pegunungan Kendeng di utaranya. Material erosi tersebut menyatu di Sangiran sehingga membentuk suatu lapisan keras setebal 1-4 meter, yang disebut grenzbank alias lapisan pembatas.Lapisan ini dipakai sebagai tanda batas antara Formasi pucangan dan Formasi Kabuh.Pengendapan grenzbank menandai perubahan lingkungan rawa menjadi lingkungan darat secara permanen di Sangiran. Pada Grenzbank banyak ditemukan hewan mamalia, ditemukan pula fosil Homo Erectus.
4. Formasi Kabuh
Pada periode berikutnya terjadi letusan gunung yang hebat di sekitar Sangiran, berasal dari Gunung Lawu, Merapi dan Merbabu purba.Letusan hebat telah memuntahkan jutaan kubik endapan pasir vulkanik, kemudian diendapkan oleh aliran sungai yang ada di sekitarnya saat itu. Aktivitas vulkanik tersebut tidak hanya terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi susul-menyusul dalam periode lebih dari 500.000 tahun.Aktivitas alam ini meninggalkan endapan pasir fluvio-volkanik setebal tidak kurang dari 40 meter, dikenal sebagai Formasi Kabuh. Lapisan ini mengindikasikan daerah Sangiran sebagai lingkungan sungai yang luas saat itu: ada sungai utama dan ada pula cabang-cabangnya dalam suatu lingkungan vegetasi terbuka. Salah satu sungai purba yang masih bertahan adalah Kali Cemoro.
Berbagai manusia purba yang hidup di daerah Sangiran mulai 700.000 hingga 300.000 tahun kemudian terpintal oleh aliran pasir ini. "Mereka

18
diendapkan pada sejumlah tempat di Sangiran. Badak, antilop dan rusa yang ada di grenzbank masih tetap ada pada Formasi Kabuh.Stegodon sp ditemani jenis lain, Elephas hysudrindicus dan Epileptobos groeneveldtii (banteng).
Saat itu mereka masih meneruskan tradisi pembuatan alat serpih bilah. Pada Kala Plestosen Tengah inilah Sangiran menunjukkan lingkungan yang paling indah: hutan terbuka dengan berbagai sungai yang mengalir, puncak dari kehidupan Homo erectus beserta lingkungan fauna dan budayanya. Lapisan ini merupakan lapisan yang paling banyak menghasilkan fosil manusia dan binatang.Berumur 700 ribu s/d 250 ribu tahun lalu. Dengan Lapisan:
1. Lapisan konglomerat
2. Lapisan batuan grenzbank sebagai pembatas
3. Lapisan lempeng vulkanik (tuff) (ada 3 tuff)
4. Lapisan pasir halus silang siur
5. Lapisan pasir gravel.
5. Formasi Notopuro
Formasi Notopuro yang berada pada lapisan teratas di situs Sangiran ini sekitar 500.000 – 250.000 tahun yang lalu dengan litologi breksi laharik dan batu gamping tufaan yang diakibatkan oleh banyaknya aktivitas vulkanik. Lahar vulkanik diendapkan kembali di daerah Sangiran, yang juga mengangkut material batuan andesit berukuran kerikil hingga bongkah.Di dalam lapisan ini banyak ditemukan artefak batu hasil budaya manusia yang berupa

19
serpih-bilah (sehingga Sangiran dijuluki industri serpih-bilah Sangiran), kapak perimbas, bola batu, kapak penetak, dan kapak persegi. Selain itu, lapisan ini juga
ditandai oleh endapan lahar, breksi, pasir dan juga banyak ditemukan alat serpih, fosil kerbau dan kijang.
Setelah pembentukan Formasi Notopuro, terjadilah pelipatan morfologi secara umum di Sangiran, yang mengakibatkan pengangkatan Sangiran ke dalam bentuk kubah raksasa.Erosi K. Cemoro berlangsung terus-menerus di bagian puncak kubah sehingga menghasilkan cekungan besar yang saat ini menjadi ciri khas dari morfologi situs Sangiran. Berumur 250 ribu s/d 15 ribu tahun lalu. Dengan lapisan:
1. Lapisan lahar atas
2. Lapisan teras
3. Lapisan batu pumice
6. Formasi Teras Solo (Kali Pasir)
Berumur 15 ribu s/d 1.5 ribu tahun lalu.Dimana hanya memiliki lapisan endapan sungai batu kerikil dan kerakal.
3.3. Pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di Museum Sangiran
Sebanyak 50 (lima puluh) individu fosil manusia Homo erectus telah ditemukan. Jumlah ini mewakili 65 % dari fosil Homo erectus yang ditemukan di seluruh Indonesia atau sekitar 50 % dari populasi Homo erectus di

20
dunia .Keseluruhan fosil yang telah ditemukan sampai saat ini adalah sebanyak 13.809 buah. Sebanyak 2.934 fosil disimpan di Ruang Pameran Museum Sangiran dan 10.875 fosil lainnya disimpan di dalam gudang penyimpanan. Dilihat dari hasil temuannya, Situs Sangiran merupakan situs pra sejarah yang memiliki peran

yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Berdasarkan hal tersebut, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Dunia nomor 593 oleh Komite World Heritage pada saat peringatan ke-20 tahun di Merida, Meksiko.
Selain mendirikan museum situs prasejarah sangiran untuk menjaga kawasan sangiran, pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tentang perlindungan cagar budaya sangiran, yaitu:
1. Mengeluarkan SK. Mendikbud No. 70 / 111 / 1977 dan menetapkan sangiran sebagai cagar budaya. Semua fosil-fosil di wilayah sangiran dilindungi dan setiap temuan harus diserahkan kepada pemerintah.
2. UU No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih keras yaitu, menetapkan sangiran sebagai cagar budaya ( UNESCO )
Meskipun pemerintah telah membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan cagar budaya, tetapi pada kenyataannya masih mengalami beberapa masalah yaitu;


21
1. Daerah yang seluas 32 km² hanya diawasi oleh tenaga yang sangat terbatas. Daerah itu hanya dijaga oleh 27 personil, termasuk 8 orang bertugas sebagai satpam.
2. Adanya tradisi memberi hadiah terhadap penemu fosil yang telah berlangsung sejak jaman pendudukan Belanda.
3. Para pembeli asing menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dari pemerintah, sehingga banyak penduduk setempat yang menjual fosil temuannya kepada pembeli asing.
3.4.Pengembangan Museum Purbakala Sangiran
Sejak dibangun pada 2005 silam, museum sangiran yang terletak di Kecamatan Kalijambe, akhirnya diresmikan penggunaannya oleh Wakil Menteri pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan yang juga sebagai pembuat Desain Engginering Plan Sangiran, Prof Dr. Windu Nuryati, PHD. Dua puluh tahun silam tempat tersebut masih berupa joglo sederhana yang dijadikan tempat pengumpulan fosil-fosil purba oleh kepala desa Krikilan, Toto Marsono. Kini, ditanah yang berusia 1,8 juta tahun itu telah berdiri megah sebuah bangunan museum bertaraf internasional. Berbagai rangkaian acara digelar mengiringi peresmian museum, mulai dari seminar internasional yang mendatangkan 100 pakar arkelologi di dunia hingga pelaksanaan penggailian di Sangiran bersama ilmuwan dari Uni Eropa. Selain itu, pada acara tesebut diserahkan rekonstruksi rangka kuda air berusia 1,2 juta tahun yang ditemukan di Bukuran oleh tim gabungan Indonesia – Perancis. Museum Sangiran berdiri di
22
dalam Cluster Krikilan yang merupakan Cluster pertama yang telah selesai dibangun. Masih ada tiga Cluster lainnya yang akan mulai dibangun tahun depan, yaitu Cluster Ngebung, Cluster Bukuran, keduanya terletak di wilayah Kab. Sragen, dan Cluster Ndayu yang terletak di wilayah Kab.Karanganyar.
Tiap Cluster tersebut akan menjadi pusat-pusat penelitian zaman purba sesuai masing-masing bagiannya. Misalnya Cluster Ndayu akan dijadikan pusat penelitian arkeologi mutakhir dan Cluster Ngebung akan menjadi pusat sejarah temuan fosil. Pembangunan Cluster akan melibatkan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Sragen serta Kabupaten Karanganyar.
Selain itu ada beberapa upaya pemerintah yang dicanangkan untuk mengembangkan situs Manusia Purba Sangiran antara lain :
1. Melengkapi kompleks Museum Manusia Purba Sangiran dengan bangunan audio visual di sisi timur museum. Dan Bupati Sragen mengubah interior ruang kantor dan ruang pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.
2. Pemerintah merencanakan membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara bertahap. Didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.
23
3. Menghadirkan investor – investor guna memaksimalkan pengadaan pembangunan yang lebih lanjut dengan didukung fasilitas – fasilitas yang memadai.
4. Melakukan beberapa pengenalan – pengenalan mengenai Situs Purbakala Sangiran kepada publik nasional.
Museum Sangiran yang mempunyai 14.000 an koleksi fosil ini menawarkan tiga titik wisata purba yang menakjubkan. Di museum I, pengunjung dapat menyaksikan pameran fosil-fosil asli dan peralatan manusia purbakala. Kemudian dimuseum II dihadirkan 12 langkah kemanusiaan, mulai dari terciptanya alam, terbentuknya kepulauan Indonesia dan Jawa, kedatangan manusia pertama, proses evolusi sekitar 1,5 juta tahun lalu dan perkembangannya hingga menjadi manusia modern. Sedang museum III dipertunjukkan tentang zaman keemasan Homo Erectus Sangiran yang bterjadi sekitar 500.000 tahun .
Pengumpulan fosil – fosil Sangiran tidak terlepas dari peran serta Masyarakat Krikilan. Peresmian pada tanggal 15 Desember 2011 bertepatan dengan peristiwa lima tahun silam 15 Desember 2006, waktu itu terjadi peristiwa penting di Meridian Mexico, dimana Pemerintah Indonesia menerima tanda pengesahan Situs Sangiran ditetapkan sebagai warisan dunia. Bupati Sragen mengharapkan Situs Sangiran yang sangat membanggakan namun kadang kurang dikenal oleh masyarakat Sragen sendiri mengharapkan agar bisa dinikmati oleh semua kalangan tidak hanya kalangan peneliti. Sragen telah menjadi City of Java Man yang memiliki situs yang mengungkap rahasia sejarah manusia purba. Di
24
situs kebanggaan ini memuat cerita tak terputus sejarah perjalanan manusia purba hingga menjadi manusia modern. Dan di tanah yang telah berusia lebih dari 1,8 juta tahun ini ternyata masih banyak menyimpan fosil-fosil purba yang bisa digali, peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk menemukan fosil-fosil ini dan menyerahkannya kepada pemerintah Indonesia.

















BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
1. Sangiran adalah sebuah situs arkeologi (Situs Manusia Purba) di Jawa, Indonesia. Sangiran terletak di sebelah utara Kota Solo dan berjarak sekitar 15 km (tepatnya di desa krikilan, kec. Kalijambe, Kab.Sragen). Gapura Situs Sangiran berada di jalur jalan raya Solo–Purwodadi dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso (Kabupaten Karanganyar). Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Situs Sangiran, Desa Krikilan. Jarak dari gapura situs Sangiran menuju Desa Krikilan ± 5 km.
2. Ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Sebagai World Heritage List (Warisan Budaya Dunia). Museum ini memiliki fasilitas-fasilitas diantaranya: ruang pameran (fosil manusia, binatang purba), laboratorium, gudang fosil, ruang slide, menara pandang, wisma Sangiran dan kios-kios souvenir khas Sangiran.
3. Keadaan geo-stratigrafi Dari pengamatan stratigrafi batuannya, ada beberapa formasi, diantaranya :
a. Formasi Kalibeng
b. Formasi Pucangan
c. Formasi Grenzbank
d. Formasi Kabuh
e. Formasi Notopuro
25
26
f. Formasi Teras Solo (Kali Pasir)
4. Upaya pemerintah yang dicanangkan untuk mengembangkan situs Manusia Purba Sangiran antara lain :
a. Melengkapi kompleks Museum Manusia Purba Sangiran dengan bangunan audio visual di sisi timur museum. Dan Bupati Sragen mengubah interior ruang kantor dan ruang pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.
b. Pemerintah merencanakan membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara bertahap. Didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.
c. Menghadirkan investor – investor guna memaksimalkan pengadaan pembangunan yang lebih lanjut dengan didukung fasilitas – fasilitas yang memadai.
d. Melakukan beberapa pengenalan – pengenalan mengenai Situs Purbakala Sangiran kepada publik nasional.
1.2. Saran-saran
1. Kunjungilah setiap ruang yang ada di museum Sangiran, karena semua ruang menarik dan dapat membuat kita terpesona akan kekayaan purbakala Indonesia.
27
2. Berkeliling situs Sangiran bukan merupakan hal yang merugikan, sebab mungkin saja Anda dapat menjadi salah satu penemu fosil purba yang temuannya dipajang di museum Sangiran.
3. Sebagai warga negara yang baik dan khususnya kita sebagai mahasiswa harus bisa melestarikan kekayaan budaya baik itu wisata maupun sejarah bangsa. Agar tidak punah oleh waktu. Selain itu kita juga harus bisa menjaganya agar tetap lestari dan berkembang.














DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Drs. Rusmulia Tjiptadi, dkk. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situs dan Lingkungannya. Sangiran: Koperasi Museum Sangiran.
Kunjungan Langsung ke Situs Sangiran
Santosa, Hery.2000. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Universitas SanataDharma.

Tjiptadi, Rusmulia. et al. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia Purba

http://wisatadanbudaya.blogspot.com/ Sangiran- SItus- Manusia- Purba- di- Indonesia.html

http://history1978.wordpress.com/author/history1978/html





28
LAMPIRAN



29

30





31




32



33




34



35